Smaller Default Larger

Gagasan

Permintaan sumber daya manusia yang selalu tumbuh di era persaingan global dipastikan memiliki relevansi atas skill dan performance setiap individu. Persaingan tenaga kerja yang semakin ketat, secara alami menciptakan kompetisi profesi untuk mampu survive menghadapi tuntutan kompetensi dunia kerja.

 

Kondisi ini tentunya, menjadi warning bagi institusi pendidikan tinggi untuk mampu mempertahankan eksistabilitasnya sebagai sumber dari tenaga kerja tersebut. Tolak ukur kualitas secara sederhana dapat diukur dari sarjana yang dihasilkan, apakah mampu bersaing di dunia kerja atau malah menjadi pengangguran terdidik.

 

Pengembangan SDM bukanlah masalah sederhana, tapi memerlukan waktu yang panjang. Perguruan tinggi di Indonesia secara umum menghadapi problema relevansi dan mutu yang belum menggembirakan atas kebutuhkan dunia kerja. Pesatnya pertumbuhan perguruan tinggi di Indonesia masih belum sebanding dengan output maupun kualitasnya. Pendidikan tinggi belum mampu melahirkan enterpreneur dengan orientasi job creating dan kemandirian.

 

Fakta Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2013 menunjukan jumlah wirausaha di Indonesia hanya 570.339 orang dan jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 121,2 juta. Penduduk bekerja dengan pendidikan universitas hanya sebanyak 7,9 juta orang dan pendidikan diploma sebanyak 3,2 juta orang dari jumlah penduduk sebanyak 237,64 juta.

 

Data Bank Indonesia dari tahun ke tahun menunjukan permintaan domestik tetap menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, ekspor dan impor serta investasi.

 

Untuk itu diperlukan standarisasi kompetensi. Standarisasi kompetensi menjadi semakin penting pada era bisnis global, bisnis yang bisa berlangsung antar negara. Tenaga kerja asing dari berbagai bidang pekerjaan dapat bebas masuk ke Indonesia dan menjalankan praktik usaha. Persaingan tidak lagi terjadi hanya antar individu atau antar organisasi dan perusahaan, tetapi sudah antar negara.

 

Hal ini menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia, utama bagi Asosiasi Analis Pasar Investasi dan Perbankan untuk membina sumber daya manusia yang berkualitas, jika tidak ingin pasar lapangan kerja di bidang pasar modal, investasi dan perbankan dalam negeri, diserbu tenaga asing.

 

Asosiasi Analis Pasar Investasi dan Perbankan ini lahir atas dasar tanggung jawab kemasyarakatan untuk mengembangan sumber daya manusia Indonesia khususnya para pelaku pasar modal, investasi dan perbankan untuk dapat berperanan aktif sebagai penggerak, pelopor pembangunan ekonomi sesuai dengan arah serta tujuan Pembangunan Nasional. (CTeam)

 

Andakah Analis Itu?

 

 

Peran Analis begitu vital dalam perusahaan di sektor pasar modal, investasi dan perbankan. Analis tidak sekadar membuat riset secara mendalam yang menjadi dasar para investor melakukan transaksi. Mereka juga harus menganalisis prospek sektor industri tertentu atau menganalisis kondisi fundamental sebuah perusahaan sebelum menerbitkaan rekomendasi untuk para investornya.

 

Untuk bisa menjadi seorang Analis tidaklah mudah. Selain harus paham seluk-beluk soal perekonomian dan keuangan, Analis dituntut tahu luar dalam kondisi pasar, baik di pasar lokal maupun regional bahkan global.

 

Namun bekerja sebagai Analis merupakan tantangan yang menyenangkan. Setiap waktu ada saja hal baru seputar perkembangan pasar. Tugasnya terbilang kompleks yang membutuhkan keterampilan dan keahlian tingkat tinggi serta dituntut mengasah kemampuan.

 

Permintaan yang tinggi atas Analis tidak sebanding dengan jumlah Analis yang tersedia. Fenomena ini kerap memunculkan perpindahan Analis antar perusahaan, karena alasan tersendiri maupun terjadi ‘pembajakan’ pada Analis tersebut.

 

Minimnya jumlah Analis menjadi tantangan bagi Asosiasi Analis Pasar Investasi dan Perbankan. Melalui peningkatkan edukasi yang berkesinambungan, Asosiasi dapat menjembatani tercapai standar kompetensi yang memiliki daya saing bagi Analis dan calon Analis di Indonesia.

 

Meniti karier sebagai Analis handal pastinya berkorelasi dengan karir dan pendapatan yang tinggi. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan setiap sekuritas punya tenaga Analis. 

 

Siapa ingin jadi Analis? (CTeam)

Galeri Foto TUK CIMBA Medan